Api Abadi Mrapen Tempat Persinggahan Pertama Api ASIAN GAMES 2018


0
17 shares
Api Abadi merapen

Api Asian Games 2018 dari New Delhi, India, tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Adisutjipto, Sleman, Yogyakarta, Selasa pagi tadi,, Yogyakarta menjadi kota pertama yang disinggahi api abadi tersebut. Setelah dijemput lima pesawat tempur T50 Golden Eadgle dan disambut di landas pacu, api yang dibawa oleh Sang Legenda bulu tangkis Indonesia Susi Susanti Sebagai Torch Ambasador Asian Games ini diinapkan di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala sebelum menempuh perjalanan lanjutan ke Mrapen,

Bleduk Kuwu

API ABADI MRAPEN – GROBOGAN

Inilah Kompleks Api Abadi Mrapen, yang terletak di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan. Lokasi yang sebelumnya adalah milik perorangan, kini, pengelolaan titik api yang tak pernah padam ini berpindah tangan ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Api Abadi Mrapen kerap digunakan untuk keperluan perhelatan olah raga besar, seperti Pekan Olah Raga Nasional atau PON. Termasuk pada tanggal 18 Juli nanti, Api Abadi Mrapen, akan dugunakan untuk perhelatan olah raga Akbar Asian Games.

Api Abadi Mrapen mulai dikenal tahun 1963, saat digunakan untuk menyalakan obor pesta olah raga negara-negara berkembang, atau yang lebih di kenal GANEFO singkatan dari Games Of The New Emerging Forces, yang pertama. Semenjak itu, Mrapen atau yang lebih dikenal sebagai nama Merapi bagi warga sekitar, menjadi dikenal warga Indonesia secara luas. Pada tahun 1981 saat pengambilan api Pon oleh Hamengkubuwono Sembilan, nama Merapi berubah menjadi Mrapen hingga sekarang. “Kemudian pada tahun 1963 gagasan dari beberapa pejabat Indonesia terutama Bapak Presiden Sukarno, cocok sekali digunakan untuk menyalahkan obor Ganefo yang tepatnya tanggal 1 november 63 saat itu dan diikuti beberapa negara. Disitulah ada tunggu disana dan yang kemudian pada tahun 1981 ada gagasan lagi untuk api PON menyalahkanya diambil api sini, oleh bapak Sri Sultan Hamengkubuwono, hingga dikenal masyarakat indonesia,” Ujar GUNADI – Juru Kunci Mrapen.

BATIK GROBOGAN

Motif batik Grobogan pada umumnya mempunyai corak berupa motif tumbuhan atau tanaman, seperti kedelai, jati, bamboo, dan jagung. Motof-motif inilah yang menjadi ciri khas batik Grobogan yang membedakannya dengan batik yang ada di daerah lain. Motif yang paling terkenal serta dijadikan sebagai ikon batik local yaitu motif bamboo atau yang biasa disebut dengan “pring sedapur”. Selain itu batik Grobogan jga mempunyai motif lainya seperti motif kedung ombo, bleduk kuwu, padi, api abadi mrapen, ikan, bunga sepatu, dan yang lainya.

Bleduk Kuwu Terletak di Desa Kuwu Kabupaten Grobogan Jawa Tengah yang merupakan suatu  destinasi wisata dinama Bleduk Kuwu salah satu keajaiban alam, fenomena unik dari Bledug Kuwu adalah air yang terkandung dalam lumpur tersebut mengandung garam. Hal ini menjadi menarik lantaran lokasi Bledug Kuwu ini berlokasi sangat jauh dari laut. Oleh warga setempat, dijadikan ladang penghasilan dengan cara membuat garam melalui cara tradisional. Mitologi masyarakat setempat menyebutkan jika fenomena Bledug Kuwu terjadi karena adanya lubang yang menghubungkan tempat itu dengan Laut Selatan. Konon lubang itu adalah jalan pulang Jaka Linglung dari laut selatan menuju kerajaan Medang Kamulan setelah berhasil mengalahkan Prabu Dewata Cengkar. Jaka Linglung yang merupakan putra Ajisaka diutusnya membunuh Prabu Dewata Cengkar yang telah berubah menjadi buaya putih di Laut Selatan. Jaka Linglung berjalan di perut bumi lantaran ia bisa berubah wujud menjadi ular naga. “Cerita turun temurun di masyarakat seperti itu. Dinamai Bledug Kuwu karena suara dari letupan-letupan lumpur dari kawah menimbulkan suara bledug-bledug. Sedangkan Kuwu karena semburan lumpur ini berada di Desa Kuwu,” pungkas Sriyono.

Simpang lima Purwodadi dan menaranya disebut sebut juga sebagai lambang dari grobogan, yang diresmikan pada tahun 1981, menurut kebanyakan orang juga ada kalo tahun 1975 menara simpang lima sudah ada, mungkin saja menara ini sudah lama dibangun tapi baru diresmikan 6 tahun kemudian, Dulunya Menara ini digunakan sebagai tempat penyimpanan air bagi masyarakat Purwodadi yang dulu kesulitan air bersih

Taman Hijau Kota Purwodadi terletak di belakang Rumah Sakit Islam, menjadikan akses menuju lokasi cukup mudah. Tak heran jika setiap harinya taman ini selalu ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun luar daerah Grobogan, wisatawan yang datangpun didominasi oleh kalangan anak muda. Biasanya wisatawan berkunjung ke Taman Hijau Kota Purwodadi pada sore dan malam hari, karena selain terik matahari yang sudah tidak terlalu menyengat, di taman ini juga disediakan trek jogging yang bisa kita gunakan untuk olahraga di sore hari.

Bagi anda yang tidak ada pantangan dengan kodok, jangan lewatkan kesempatan mencicipi kuliner khas Purwodadi ini. Kami sendiri sewaktu di Purwodadi mencobanya di salahsatu penjual swike yaitu swike Cik Ping, dengan embel-embel tulisan di papan namanya “sejak tahun 1901”. Membuat kita ingin mencoba gimana sih rasanya swike yang usianya sudah seabad lebih tapi masih bertahan sampai sekarang.

ada berbagai macam varian swike di sini, seperti swike kuah, goreng tepung, goreng mentega, pepes bahkan rambak swike. Kami sendiri memesan swike kuah, goreng tepung, pepes dan rambak swike. Swike kuahnya cukup enak, bumbu taoconya cukup terasa, demikian juga untuk swike goreng cukup renyah. Yang menarik penyajian nasinya bukan menggunakan piring/mangkok kecil tapi menggunakan mangkok sedang.

Contributor Atma Parindra

 


Like it? Share with your friends!

0
17 shares

What's Your Reaction?

hate hate
0
hate
confused confused
0
confused
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals