Asian Games 2018 Destinasi

Torch Relay Asian Games 2018 Telah Sampai Di Kota Bertuah ( Sekarang Kota Madani ) Pekanbaru – Riau

1.Destinasi wisata alam

Wisata Danau Khayangan

Danau ini terletak di Desa Limbungan yang berjarak 10 km dari pusat kota Pekanbaru. Pada awalnya, danau ini adalah sebuah bendungan irigasi yang digunakan untuk mengalirkan air ke sawah-sawah warga sekitar. Sampai kemudian, bendungan buatan ini dijadikan salah satu tempat wisata di Pekanbaru.Pemandangan alam sekitar Danau Buatan Lembah Sari ini memiliki panorama yang indah, sejuk, nyaman dan bukit-bukit yang ditumbuhi pepohonan, memungkinkan dikembangkan sebagai tempat atraksi wisata tirta seperti berenang, memancing, bersepeda air dan lain-lain.

2.Budaya Sekitar Daerah

Kain Tenun Songket Riau.

Kain tradisional daerah Riau merupakan kain tenun, atau biasa disebut oleh perajin dan pendatang sebagai kain songket. Tenun tradisional Riau pada masa dahulu hanya digunakan untuk kalangan bangsawan atau kaum kerajaan saja. Namun seiring waktu, kain tenun ini mulai digunakan secara luas. Paling lazim kain tenun tradisional digunakan untuk acara pernikahan adat Riau sebagai bahan utama pembuat pakaian pengantin, dan juga sebagai salah satu hadiah pernikahan (seserahan) untuk mempelai. Selain itu, mulai banyak produk kerajinan yang dibuat dari tenun khas Riau. Untuk cinderamata misalnya, dibuat souvenir gantungan kunci berbentuk pakaian adat Riau dengan aksen tenun. Ada pula wadah tisu, sarung bantal, kap lampu, tempat perhiasan, tas, dan lain-lain. Untuk tetap melestarikan kain tenun tradisional Riau dan akar kebudayaan Melayu, maka pemerintah daerah Riau menerapkan peraturan seragam untuk pegawai negeri sipil di wilayah Riau. Aturan seragam tersebut yaitu pada hari Kamis diwajibkan menggunakan pakaian khas dengan kain tenun Riau, sedangkan hari Jumat, diwajibkan untuk mengenakan baju adat khas Melayu. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat terhadap tenun tradisional Riau akan tetap ada, sehingga kain tenun akan tetap diproduksi. Hal ini merupakan salah satu usaha melestarikan tenun tradisional Riau.

3.Makanan Khas Daerah

Bolu Kemojo 

makananan khas daerah yg satu ini kerap juga disebut dengan bolu kojo berasal dari kata kemboja atau bunga kamboja. Disebut demikian karena loyang yang digunakan untuk membuat bolu ini memiliki bentuk seperti bunga kamboja. Bolu kemojo cukup populer di Pekanbaru,Riau dan acapkali dijadikan sebagai buah tangan usai bertandang ke ranah melayu ini.

Kue ini hampir tak pernah absen saat perayaan acara adat di daerah. Teksturmya padat dan cenderung seperti kue basah, bukan seperti bolu yang lembut layaknya cake. Rasanya dominan manis dengan sedikit aroma dan rasa telur saat menyantapnya.

Warna hijau pada bolu kemojo berasal dari campuran air daun suji dan daun pandan jadi bukan hanya menghasilkan warna tetapi juga ada aroma khasnya. Bolu kemojo dimasak dengan cara dikukus sehingga membuatnya kuat akan kesan tradisional.

Masyarakat Riau sering membuat bolu kemojo secara bersama-sama karena saat perta adat atau upacara adat biasanya disajikan bolu kemojo dalam jumlah yang banyak. Dari ini bisa terlihat aktifitas gotong-royong yang merupakan warisan nenek moyang.

4.Ikon Daerah

Masjid Agung An-Nur

merupakan masjid terbesar di Pekanbaru, Riau yang terletak di Jalan Hangtuah, Sumahilang, Pekanbaru. Dilihat dari desain bangunannya banyak terpengaruh gaya campuran arsitektur Melayu, Turki, Arab dan India.
Masjid berdiri tanggal 27 Rajab 1388 H atau bertepatan dengan tanggal 19 Oktober 1968, diresmikan oleh Arifin Ahmad, Gubernur Riau pada saat itu.  Pada tahun 2000 di masa Gubernur Saleh Djasit, masjid ini direnovasi.

Proses renovasi selesai pada tahun 2006 semasa Gubernur Riau Rusli Zainal. Pemakaiannya diresmikan oleh Presiden RI tahun 2007 Soesilo Bambang Yudhoyono, bertepatan dengan ulang tahun emas Provinsi Riau ke-50.

Dari pembangunan tahun 2000 tersebut luas lahan masjid ini bertambah tiga kali lipat dari sebelumnya yang hanya seluas 4 hektare menjadi 12.6 hektare, dan memberikan keleluasaan bagi penyediaan lahan terbuka untuk warga kota termasuk di dalamnya kawasan taman hijau dan lahan parkir yang begitu luas.

Dalam sejarahnya Masjid Agung An-Nur pernah menjadi kampus bagi Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Kasim Pekanbaru di awal pendiriannya hingga tahun 1973. IAIN Sultan Syarif Kasim kini Menjadi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN SUSKA) Pekanbaru.

Masjid ini sering disebut sebagai Taj Mahalnya Provinsi Riau. Bila kita amati arsitektural masjid Agung An-Nur memang memiliki beberapa kesamaan dengan Taj Mahal, terutama dengan kolam yang ada di depan masjid. Arsitektur Masjid ini dirancang oleh Ir. Rosenodengan ukuran 50 x 50 m yang terletak dalam satu pekarangan yang luasnya 400 x 200 m. Kapasitas masjid dapat menampung sekitar 4.500 orang jamaah.

Bangunan masjid terdiri dari dua tingkat. Tingkat atas digunakan untuk sholat, dan tingkat bawah untuk kantor dan ruang pertemuan. Selain itu di lantai bawah masjid juga terdapat sekretariat masjid, remaja masjid, dan kelas tempat pendidikan Islam.

 

 

 

About admin

No Comments Found

Leave a Reply